Bukan Cuma Bantu Saja, Yuk Kita Naikin Level Pemberdayaan! Pengalaman Seru di Indonesia Humanitarian Summit 2025


Baru-baru ini, aku punya kesempatan yang luar biasa untuk menghadiri salah satu acara tahunan yang jadi ajang berkumpulnya para pelaku kemanusiaan, pemerhati sosial, hingga tokoh-tokoh penting dari berbagai sektor di Indonesia. Ya, tepatnya Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report dengan tema “EMPOWERMENT TO THE NEXT LEVEL” yang digelar oleh Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV. Sebelum cerita lebih jauh tentang acara tersebut, izinkan aku berbagi sedikit cerita pribadi yang membuat aku semakin paham betapa pentingnya gerakan kemanusiaan dan filantropi di masa kini.

Cerita dari Sudut Kota: Saat Kesenjangan Terasa Nyata di Sekitar Kita

Beberapa waktu lalu, aku mampir ke salah satu kawasan di Jakarta untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus mengunjungi teman. Di perjalanan pulang, aku melihat sekelompok anak muda sedang berkumpul di depan warung kecil, berdiskusi dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Karena penasaran, aku sempat mampir dan berbincang sebentar dengan mereka. Ternyata, sebagian dari mereka baru saja kehilangan pekerjaan karena perusahaan tempat mereka bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam skala besar. Beberapa yang lain adalah mahasiswa yang kesulitan menyambung kuliah karena orang tuanya tidak lagi mampu mencukupi biaya hidup dan pendidikan akibat daya beli yang terus menurun.

Saat itu, aku teringat data yang pernah aku baca dari BPS per Maret 2025 yang menyatakan bahwa persentase penduduk miskin Indonesia adalah 8,47% atau sekitar 23,85 juta orang. Namun, seperti yang dikatakan di dalam acara nantinya, kondisi di lapangan seringkali terasa jauh lebih berat dibandingkan angka yang tercatat. Kelompok menengah yang selama ini jadi tulang punggung ekonomi nasional, kini banyak yang terancam jatuh ke dalam kategori rentan miskin. Kesenjangan sosial makin terasa, terutama di daerah-daerah yang memiliki lapangan kerja terbatas dan biaya hidup yang terus melambung naik.

Perubahan iklim yang semakin ekstrem, konflik global yang tak kunjung usai, dan gejolak geopolitik juga turut memberi dampak yang tidak sedikit bagi kehidupan masyarakat kita. Banyak keluarga yang harus merelakan anak-anak mereka putus sekolah, atau bahkan terpaksa berpindah tempat tinggal karena tidak bisa lagi bertahan hidup di daerah asal mereka. Kondisi seperti ini membuat aku berpikir, apa yang bisa kita lakukan sebagai bagian dari masyarakat untuk membantu mengatasi permasalahan ini? Jawabannya, rupanya, bisa kita temukan dalam acara Indonesia Humanitarian Summit 2025 yang aku hadiri tersebut.

Acara Dimulai dengan Semangat yang Menginspirasi!

Acara digelar pada hari Kamis, 15 Januari 2026, mulai pukul 13.00 siang di Nusantara TV Ballroom, NT Tower lantai 5, berlokasi di Jl. Pulomas Selatan No.20, Kayu Putih, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Dengan jumlah peserta sekitar 300 orang yang terdiri dari perwakilan pemerintah dan lembaga negara, organisasi non-pemerintah (NGO), lembaga kemanusiaan, tokoh filantropi, akademisi dan peneliti, mahasiswa, mitra strategis, media, komunitas, serta masyarakat umum, suasana acara terasa sangat meriah dan penuh semangat kolaborasi.

Acara dibuka tepat dengan sesi pembukaan yang singkat namun penuh makna. Tak lama kemudian, kita disuguhkan dengan Tampilkan Seni Tradisional yaitu Tari Saman yang dibawakan oleh anak-anak penyandang tunarungundan tunawicara yang berbakat, tidak hanya menghibur, tapi juga memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia yang patut kita banggakan dan sangat menyentuh melihat semangat mereka saat tampil. Menurutku, ini adalah cara yang bagus untuk memulai acara karena seni tradisional selalu mampu menyatukan hati dan pikiran kita sebagai bangsa yang beragam budaya.

Setelah itu, Rahmat Ryadi sebagai Anggota Pembina Dompet Dhuafa memberikan sambutan hangat yang menyampaikan harapan besar agar acara ini bisa menjadi tonggak penting dalam menggerakkan perubahan nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Ia juga menekankan bahwa Dompet Dhuafa tidak hanya fokus pada pemberian bantuan langsung, tapi lebih jauh lagi pada pemberdayaan yang berkelanjutan agar mereka yang mendapatkan bantuan bisa keluar dari jerat kemiskinan dan hidup dengan lebih bermartabat.

Kata-kata Bijak dari Para Keynote Speaker

Bagian yang paling aku nantikan adalah sesi Keynote Speaker yang menghadirkan tiga tokoh penting di negeri ini. Pertama, Bapak Parni Hadi (Ketua Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika) yang bercerita tentang perjalanan panjang Dompet Dhuafa dalam mengabdi untuk masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa terus berkomitmen untuk menjalankan program-program pemberdayaan ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, dakwah, dan budaya yang terukur, berdampak, dan berkelanjutan.

Tak hanya itu, Dompet Dhuafa juga berhasil meraih berbagai penghargaan pada tahun 2025, seperti SDG’s Action Award Tingkat Nasional dan Provinsi oleh Bappenas, Top Brand Award Kategori Zakat dan Amal, Nazir Wakaf Terbaik di BWI Award, serta penghargaan Dai Pemberdaya Maluku dari Bank Indonesia dalam rangka Festival Ekonomi Syariah untuk Kawasan Timur Indonesia. Bahkan, organisasi ini juga telah menerapkan standar Good Corporate Governance (GCG) dan Good Risk Management (GRM) yang diawasi secara optimal, serta berhasil meraih standarisasi ISO 9001-2015 dan ISO 27001-2022, sementara ISO 37001 untuk Anti Penyuapan dan Tindak Terorisme sedang dalam tahap implementasi. Pencapaian ini menunjukkan bahwa Dompet Dhuafa sangat serius dalam menjalankan tugasnya dengan profesional dan transparan.

Selanjutnya, Marina Darto (Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Talenta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI) menyampaikan pentingnya mengembangkan talenta masyarakat, terutama anak muda, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas dan pelatihan keterampilan yang tepat akan membantu masyarakat untuk meningkatkan kapasitas diri dan bersaing di dunia kerja.

Kemudian, Anis Mata (Wakil Menteri Luar Negeri RI) memberikan pandangan mengenai bagaimana kerja sama internasional bisa mendukung upaya filantropi dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia. Ia menekankan bahwa kolaborasi antar negara sangat penting untuk mengatasi masalah sosial yang berskala global, seperti perubahan iklim dan kemiskinan, serta untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam menjalankan program-program pemberdayaan.

Indonesia Philanthropy Report 2025: Data dan Wawasan Berharga

Setelah jeda istirahat sebentar, kita diajak untuk menyimak Pemaparan Indonesia Philanthropy Report 2025 yang disampaikan langsung oleh Ahmad Juwaini sebagai Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa, dengan durasi sekitar 45 menit. Laporan ini sangat menarik karena memberikan gambaran menyeluruh tentang perkembangan dunia filantropi di Indonesia pada tahun 2025, mulai dari jumlah kontribusi yang terkumpul, sektor-sektor yang paling banyak mendapatkan dukungan, hingga dampak yang dihasilkan dari berbagai program filantropi yang berjalan.

Salah satu poin penting yang aku dapatkan dari laporan ini adalah bahwa peran filantropi di Indonesia semakin besar dan signifikan. Banyak perusahaan, komunitas, dan individu yang mulai menyadari pentingnya berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat. Namun, masih banyak hal yang bisa ditingkatkan, terutama dalam hal koordinasi antar lembaga dan pengembangan program-program yang lebih fokus pada pemberdayaan daripada hanya memberikan bantuan tunai atau barang semata.

Diskusi Panel yang Menginspirasi: Dari Inovasi Filantropi hingga Pemberdayaan Muda

Setelah sesi pemaparan laporan dan disuguhkan dengan pertunjukan musik yang menyegarkan hati, acara dilanjutkan dengan dua sesi diskusi panel yang sangat menarik perhatian.

Panel Pertama: “Lembaga Filantropi dalam Pemberdayaan Berdampak Selaras dengan Asta Cita”

Moderator oleh Bapak Dede Apriadi (Direktur Komersial Nusantara TV), sesi ini menghadirkan panelis berbintang yaitu Agung Pardini (Direktur Institute for Development of Economics and Finance/IDEAS), Yudi Latif (Anggota Dewan Pembina Dompet Dhuafa), Dr. Eko Muliansyah (Ketua Bidang Inovasi dan Literasi Forum Zakat), dan KH. Dr. Wahfiudin Sakkam, MBA (Dewan Pengawas Syariah Dompet Dhuafa Republika).

Dalam diskusi ini, para panelis membahas tentang bagaimana lembaga filantropi bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menciptakan program pemberdayaan yang tidak hanya berdampak jangka pendek, tapi juga selaras dengan Asta Cita Pancasila sebagai dasar negara kita. Mereka sepakat bahwa pemberdayaan harus fokus pada peningkatan kapasitas masyarakat agar mereka bisa mandiri dan tidak lagi bergantung pada bantuan dari luar.

Agung Pardini misalnya, bercerita tentang bagaimana institusi riset bisa berkontribusi dengan memberikan analisis data dan rekomendasi kebijakan yang mendukung perkembangan filantropi. Sementara itu, Dr. Eko Muliansyah menjelaskan tentang pentingnya inovasi dan literasi zakat untuk meningkatkan kontribusi dan dampak program-program yang berjalan.

Panel Kedua: “Local Leader: Young Empowerment, Young Philanthropist”

Sesi kedua yang moderatori oleh Atiatul Muqtadir (Penerima Manfaat Dompet Dhuafa) ini fokus pada peran pemuda dan pelaku usaha lokal dalam dunia filantropi dan pemberdayaan masyarakat. Panelis yang hadir adalah Sally Giovanny (Pemilik Batik Trusmi), Andhika Mahardika (Founder & CEO Agradaya), dan Sandiaga Uno (Pengusaha).

Diskusi ini sangat menyegarkan karena menunjukkan bahwa berbagai kalangan memiliki peran penting dalam mendorong gerakan pemberdayaan. Sally Giovanny bercerita tentang bagaimana dia berhasil memberdayakan para pengrajin batik di Trusmi, Cirebon, dengan memberikan pelatihan dan akses pasar yang lebih baik. Ia menekankan bahwa pemberdayaan lokal harus selalu memperhatikan nilai-nilai budaya yang ada agar hasilnya bisa lebih berkelanjutan dan memiliki ciri khas yang unik.

Andhika Mahardika kemudian membagikan pengalamannya dalam mengembangkan Agradaya untuk memberdayakan petani muda dan meningkatkan nilai tambah produk pertanian lokal. Sementara Sandiaga Uno menyampaikan pentingnya peran pengusaha dalam menciptakan lapangan kerja dan mengajak komunitas bisnis untuk berkontribusi pada program kemanusiaan.

Penghargaan untuk Pemenang Compassion Film & Foto Festival

Setelah kedua sesi panel selesai dan menjelang acara ditutup, ada momen yang sangat spesial yaitu pembagian penghargaan dan hadiah bagi para pemenang Lomba Compassion Film & Foto Festival yang diselenggarakan bersama oleh Dompet Dhuafa dan Nusantara TV. Lomba ini bertujuan untuk mengajak masyarakat, terutama kaum muda, untuk mengabadikan momen-momen kebaikan dan cerita inspiratif dari berbagai program pemberdayaan yang berjalan di seluruh Indonesia.

Para pemenang yang terpilih telah berhasil menyajikan karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tapi juga mampu menyampaikan pesan kuat tentang pentingnya solidaritas dan peran kita dalam memberdayakan sesama. Karya-karya mereka akan juga dipajang di berbagai platform Dompet Dhuafa dan Nusantara TV untuk lebih luas menjangkau masyarakat dan menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut bergerak dalam gerakan kemanusiaan.

Semangat Baru untuk Memberdayakan Masyarakat

Acara ditutup pada sore hari dengan sesi penutupan yang penuh semangat. Selain itu, sepanjang acara juga ada Pameran Program dan Produk Pemberdayaan Dompet Dhuafa yang bisa kita kunjungi untuk melihat langsung hasil dari berbagai program yang telah dijalankan. Dari produk kerajinan tangan yang dibuat oleh kelompok masyarakat yang diberdayakan, hingga contoh program kesehatan dan pendidikan yang telah memberikan manfaat bagi banyak orang.

Setelah menghadiri acara ini, aku merasa semakin termotivasi untuk ikut berkontribusi dalam gerakan kemanusiaan dan filantropi. Tidak perlu menjadi orang kaya atau memiliki jabatan tinggi untuk bisa membantu orang lain. Setiap bentuk kontribusi, baik itu waktu, tenaga, maupun materi, pasti memiliki nilai yang sangat berharga bagi mereka yang membutuhkan.

Ingat teman-teman, pemberdayaan bukan hanya tentang memberi apa yang dibutuhkan oleh orang lain, tapi lebih jauh lagi tentang membantu mereka untuk menemukan potensi yang ada dalam diri mereka sendiri sehingga bisa hidup dengan lebih mandiri dan bermartabat. Mari kita tingkatkan level pemberdayaan kita ke tahap berikutnya dan ciptakan Indonesia yang lebih baik untuk semua orang!

Apakah kamu pernah terlibat dalam kegiatan filantropi atau program pemberdayaan masyarakat? Atau mungkin kamu punya ide menarik untuk membantu mengatasi permasalahan sosial di sekitar kita? Yuk ceritakan pengalaman atau ide kamu di kolom komentar ya! 😊

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *