“Meradjoet Sendja”: Saat Seni Mengajak Kita Merajut Kembali Cita-cita Pancasila


Tiap Agustus aku selalu ngerasa aneh.
Di satu sisi seneng karena sepanjang jalan udah merah putih. Di sisi lain suka mikir: apa maknanya udah nyampe ke hati juga?

Nah, di tengah riuh Agustus tahun ini aku nemu satu undangan yang bikin aku diem beberapa detik.

“Meradjoet Sendja – Persembahan Cinta Untuk Republik”
Sebuah pertunjukan dari PARFI 56, KEANA Films, Kementerian Kebudayaan, dan Dompet Dhuafa yang diberi nama Bakti Seniman Nusantara.

Bukan konser. Bukan karnaval.
Tapi ajakan buat duduk, merenung, dan “merajut” lagi apa arti Indonesia buat kita sekarang.

Dan tujuannya sederhana tapi dalam: mengajak kita merajut kembali cita-cita Indonesia.

Dimulai Dari Obrolan, Bukan Sorotan Lampu

Beruntungnya aku berkesempatan menghadiri Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa pada Jumat, 14 Agustus 2026.

Temanya berat: Sebuah Cita Bernama Indonesia dan Pancasila sebagai Nilai Dasarnya.
Tapi penyampaiannya? Justru bikin hangat.

Di sana ada Yudi Latif yang naskahnya jadi dasar pertunjukan ini. Ada Olivia Zalianty sebagai sutradara yang dengan tenang cerita kenapa dia pilih seni sebagai bahasa. Ada juga tokoh budaya KGPH Ndaru Kusumo.

Dialog yang dipandu Gaib Maruto ini berlangsung seru dengan tema “Sebuah Cita Bernama Indonesia dan Pancasila Sebagai Nilai Dasarnya”. Pembahasannya terdengar berat namun apa yang disampaikan para narasumber mengenai Pancasila sebagai Nilai-Nilai Dasar Bernegara sebenarnya cukup akrab terdengar sejak dulu.

Yang paling aku ingat dari dialog itu adalah kalimat: “Indonesia itu bukan selesai di 1945. Dia PR tiap hari.”

Pak Yudi bilang, kata “Indonesia” dulunya cuma istilah. Tapi bisa jadi semangat yang mempersatukan ratusan suku dan bahasa. Kurang dari 50 tahun, kita bisa berdiri dan memimpin Asia-Afrika.

Nah sekarang, 81 tahun merdeka, kita lagi ngapain dengan kemerdekaan itu?

Mba Olivia nambahin. “Kadang kita capek dikasih data. Kita butuh ngerasa. Teater itu tempat paling jujur buat ngerasa.”

Dengerin itu aku langsung mengangguk. Iya juga ya. Kita butuh ruang buat nangis, ketawa, dan malu sama diri sendiri. Bukan cuma baca berita.

Konferensi Pers yang Rasanya Kayak Ketemu Sejarah

Selesai dialog, suasana berubah. Sebelum masuk ke sesi inti, ruangan mendadak hening.

Jane Calista naik ke panggung dan membawakan lagu “Indonesia Pusaka”.
Dengerin lirik “Indonesia Pusaka, Pusaka Indonesia” dinyanyiin langsung itu jujur aku langsung merinding.

Rasanya kayak baru bener-bener “masuk” ke acaranya. Dari yang tadinya mikir-mikir, langsung ketarik ke rasa cinta tanah air.

Baru setelah itu masuklah sesi perkenalan para pemain Teater Meradjoet Sendja.

Ini bukan casting biasa. Ini kayak reuni tokoh bangsa.

Bayangin duduk semeja dengan Arswendy Bening Swara yang memerankan Soekarno. Dengan Lutfi Ardiansyah sebagai Hatta. Ada Tanta Ginting jadi Tan Malaka. Edopaha jadi Sutan Syahrir.

Mereka nggak cuma berakting. Mereka membawa beban sejarah di pundaknya. Dan itu kerasa banget pas sesi tanya jawab.

Marcella Zalianty juga ada di sana. Sebagai Executive Produser dan juga pemeran Siti Soendari. Beliau cerita kalau proses latihan ini menguras emosi. “Karena kita nggak cuma menghafal. Kita harus memahami kenapa mereka berdebat, kenapa mereka nangis, kenapa mereka tetap memilih Indonesia.”

Kebayang kan gimana megahnya pas mereka satu panggung di teater musikal ini. Apalagi dengan kostum dan tata panggung yang katanya bakal nusuk ke hati.

Di momen itu juga diluncurkan PARFI 56 x Dompet Dhuafa Social Fund.

Jadi pertunjukan ini punya 2 misi. Pertama, menghidupkan ingatan. Kedua, menggerakkan aksi. Hasil dari pementasan nanti 100% penjualan tiketnya akan disalurkan untuk membantu sesama seniman dan program sosial.

Program tersebut dihadirkan sebagai bentuk kepedulian bagi para seniman dan budayawan yang membutuhkan dukungan, sekaligus masyarakat dhuafa yang juga membutuhkan bantuan.

Nonton sambil berkontribusi. Konsep yang menurutku paling pas buat jaman sekarang.

Lalu Seperti Apa “Meradjoet Sendja” Itu?

Naskahnya lahir dari perenungan Yudi Latif. Bukan naskah sejarah yang kaku. Tapi dialog. Perdebatan. Keraguan. Harapan. Sama seperti yang mungkin kita rasakan sekarang.

Disutradarai oleh Olivia Zalianty, pertunjukan ini akan jadi rumah bagi banyak wajah.

Selain 4 “Bapak Bangsa” tadi, ada juga Marcella Zalianty, Isyana Sarasvati, Fryda Lucyana, Jane Callista, Shanna Shannon, Che Cupumanik, Ridho Rohkanah.

Dari flyer dan bocoran gladi nya, tata panggungnya megah. Kostumnya detail. Nuansa emas dan krem mendominasi. Berasa benar-benar dibawa ke “sendja” – senja di masa peralihan, masa penuh tanya, tapi juga penuh cinta.

Makanya dipilih Gedung Kesenian Jakarta sebagai tempatnya. Gedung tua yang dindingnya udah denger banyak cerita bangsa. Pas banget.

Kenapa Kita Harus Peduli di Bulan Agustus Ini?

Jujur, aku sempat bertanya itu ke diri sendiri. “Apa aku masih butuh diingetin tentang Pancasila?”

Ternyata iya. Apalagi di bulan Agustus.

Kita hidup di jaman yang serba cepat. Gampang terpecah karena beda pendapat di kolom komentar. Gampang lupa kalau dulu orang-orang ini bertengkar hebat, tapi tetap satu meja karena punya tujuan yang sama: Indonesia merdeka.

“Meradjoet Sendja” ngingetin itu. Bahwa berbeda itu wajar. Yang bahaya kalau kita berhenti merajut.

Lewat seni, kita diajak berempati. Lewat dialog, kita diajak berpikir. Lewat Social Fund, kita diajak bergerak.

Buat Kamu yang Mau Ikut “Merajut”

Kalau kamu baca sampai sini dan hatimu juga ikut tergerak, ini info lengkapnya ya:

Pementasan Teater “Meradjoet Sendja”
Tanggal: 26 Agustus 2026
Waktu: 19.00 – 21.00 WIB
Tempat: Gedung Kesenian Jakarta
Tiket: Bisa dibeli di http://LOKET.COM atau hubungi WA 08111544006
Instagram: @parfi56 @dompetdhuafaorg @keana_film

Aku udah tandai tanggalnya. Udah siapin diri buat pulang dengan kepala penuh dan mata mungkin sedikit sembab.

Karena jujur, kita semua butuh diingatkan lagi. Bahwa Indonesia ini bukan warisan. Dia amanah. Dan amanah itu harus terus dirajut.

Sampai ketemu di “Sendja” ya. Siapa tau di lobi GKJ kita bisa salaman dan bilang: “Makasih udah mau datang merajut juga”.